Rabu, 27 Maret 2013

Penentu Faktor-Faktor Produksi

BAB I
PERMINTAAN TERHADAP
FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI
Dalam kegiatan memproduksi pada hakikatnya setiap pengusaha harus menentukan berapa banyak modal, tenaga kerja dan faktor produksi lainnya yang harus digunakan agar biaya produksi dapat diminimumkan, nah dengan ada nya faktor-faktor tersebut di perlukannya analisis permintaan dan penawaran yang akan menolong para produsen dalam kegiatan memproduksi dengan itu hal-hal yang akan dibahas didalam makalah ini adalah antara lain :
·         Analisis penentuan harga faktor
·         Teori produktivitas marjinal
·         Persaingan tidak sempurna dan permintaan faktor produksi
·         Sifat permintaan terhadap faktor produksi
·         Elastisitas permintaan faktor produksi
·         Syarat penggunaan optimum faktor-faktor produksi
Berbicara tentang kegiatan memproduksi memerlukan analisis yang lengkap,nah perlu kita ketahui bahwa hal yang dibahas didalam bab ini belum lengkap dan harus ada lanjutan dari hal yang kita bahas diatas yaitu membicarakan mengenai penentuan harga tenaga kerja, yaitu penentuan tingkat upah dan kemudian menjelaskan harga dari faktor produksi lain, yaitu penentuan sewa tanah, suku bunga dan keuntungan yang akan dibahas pada bab selanjutnya.
1.    Analisis Penentuan Harga Faktor
Terdapat dua alasan yang menyebabkan kebutuhan untuk menganalisis permintaan dan penawaran ke atas faktor-faktor produksi. Yang pertama, analisis tersebut akan menjelaskan prinsip-prinsip untuk menggunakan dan mengalokasikan faktor-faktor produksi secara efisien. Yang kedua, analisis tersebut akan menjelaskan bagaimana pendapatan faktor produksi ditentukan.
1.1    Pengalokasian Faktor Produksi
Dalam mengalokasikan suatu barang produksi mempunyai kemampuan yang terbatas dalam menghasilkan barang-barang yang diinginkan oleh konsumen dari sumber daya yang tersedia, maka yang dapat diusahakan adalah memaksimumkan produksi yang dapat diciptakan yang bertujuan mengoptimalkan hasil produksi secara efisiensi.
Di pihak lain, usaha tersebut penting dikarenakan untuk keuntungan perusahaan tersebut yang sedang melakukan survival mode yang sangat mengoptimalkan faktor produksi sehingga memperoleh pengalokasian secara efisiensi.
1.2    Penentuan Pendapatan dan Distribusi Pendapatan
Analisis mengenai permintaan faktor-faktor produksi bukan saja akan menjelaskan tentang penentuan harga-harga faktor produksi, tetapi juga menjelaskan tentang pendapatan dari masing-masing faktor produksi dan distribusi pendapatan ke berbagai jenis faktor produksi. Pendapatan yang diperoleh masing-masing jenis faktor produksi tersebut tergantung kepada harga dan jumlah masing-masing faktor produksi yang digunakan, dari itu hasil penjualan adalah merupakan jumlah dari seluruh pendapatan faktor-faktor produksi.
2.    Teori Produktivitas Marjinal
Faktor produksi yang dibutuhkan oleh pengusaha untuk menghasilkan barang yang dibutuhkan oleh masyarakat bertujuan menciptakan keuntungan yang paling maksimum yang memiliki syarat : biaya produksi tambahan yang dibayarkan kepada faktor produksi itu sama dengan hasil penjualan tambahan yang diperoleh dari produksi tambahan yang diciptakan oleh faktor produksi tersebut.
2.1    Menentukan Jumlah Faktor Produksi Yang Digunakan.
Jika suatu perusahaan ingin melakukan penambahan dalam suatu faktor  produksi maka di perlukannya pertimbangan didalam suatu penambahan dari faktor produksi tersebut oleh produsen. maka dari itu haruslah memahami dan dianalisakannya dari syarat pemaksimuman keuntungan.
·         Syarat Pemaksimuman Keuntungan, apabila penggunaan faktor produksi terus ditambah keuntungan akan berkurang dan apabila jumlah tenaga kerja yang digunakan dikurangi, juga keuntungan akan berkurang namun apa bila tidak bertambah atau berkurang, maka pada tingkat penggunaan faktor produksi tesebut produsen telah mencapai keuntungan yang maksimum. Dalam hal ini produsen lah yang mengambil keputusan dalam bertindak menggunakan faktor produksi agar keuntungan nya maksimum.
·         Pemisalan dalam Teori Permintaan terhadap Faktor Produksi, analisa Teori permintaan juga perlu terhadap faktor produksi dalam hal ini produsen meminta menggunakan faktor produksi tersebut untuk membuat pemisalan dalam memproduksikan suatu barang, contohnya : hanya satu faktor produksi yang jumlah penggunaannya dapat diubah-ubah (tenaga kerja).
2.2    Tingkat Produksi dan Hasil Penjualan
Bagaimana jumlah faktor produksi yang berbeda tersebut akan mempengaruhi tingkat produksi yang di tunjukkan. Jumlah produksi fisik (TPP atau Total Phsycal Product) yang dihasilkan oleh berbagai jumlah berbagai tenaga kerja. Menunjukkan pertambahan produksi yang diwujudkan oleh satu unit tenaga kerja. Pertambahan produksi tersebut dinamakan produksi fisik marjinal (MPP yaitu dari istilah Marjinal Phsycal Product). Hasil penjualan produksi total (TRP atau Total Revenue Product), yang di peroleh dari mengalihkan jumlah produksi dengan harga, perubahan dari hasil penjualan tersebut dinamakan dengan hasil penjualan produksi marjinal (MRP atau Marjinal Revenue Product). Nilai nya dapat dihitung dengan dua cara. Pertama, secara mengalihkan produksi fisik marjinal dengan harga. Kedua, secara menentukan beda diantara hasil penjualan total dari produksi yang dihasilkan oleh sejumlah tenaga kerja tertentu- misalnya sebanyak n-dengan hasil penjualan total dari produksi yang dihasilkan apabila satu tenaga kerja dikurangi (atau ditambah) yaitu n-1 (atau menjadi n+1).
2.3    Jumlah Faktor Produksi yang Digunakan
Di tinjau dari sudut penggunaan faktor-faktor  produksi, seorang produsen maksimumkan keuntungannya apabila melakukan kegiatan memperoduksi sampai kepada tingkat dimana hasil penjualan produksi marginal = harga faktor atau MRP = W, dimana W adalah harga faktor ( dalam kasus ini W adalah upah tenaga kerja ).
Secara grafik penentuan jumlah faktor produksi( yaitu tenaga kerja) yang digunakan dapat dilakukan dengan mengunakan kurva MRP dan kurva W. Maka kurva W dinamakan juga kurva biaya marginal faktor atau kurva MCF (marginal cost of factor). Disamping itu kurva W dapat dipandang sebagai kurva penawaran tenaga kerja (faktor produksi). Penggunaan jumlah faktor produksi di tentukan oleh perpotongan kurva W dengan kurva MRP. Perpotongan tersebut adalah di titik E, dan menggambarkan bahwa harga faktor (biaya marginal faktor  = hasil penjualan produksi marginal atau W = MRP.
Kurva  MRP dapat pula dipandang sebagai kurva permintaan tenaga kerja (atau sesuatu faktor produksi lain sekiranya faktor produksi itu berlainan dari tenaga kerja).

3.    Persaingan Tidak Sempurna dan Permintaan Faktor Produksi
Dari perubahan pemisalan kepada permintaan keatas faktor produksi dan kepada penggunaan tenaga kerja yang akan memaksimumkan keuntungan perusahaan maka diperlukan pemisalan pasar barang yang merupakan bentuk pasar persaingan tidak sempurna.
3.1    Permintaan Faktor
Dalam pasar barang yang bersifat persaingan tidak sempurna harga akan menjadi semakin rendah pada tingkat produksi/penjualan barang yang semakin tinggi. Harga yang semakin rendah ini menyebabkan hasil penjualan total dan hasil penjualan marjinal pada setiap tingkat penggunaan tenaga kerja adalah lebih rendah dari yang terdapat dalam pasar persaingan sempurna. Sehingga mengakibatkan harga barang mengalami perubahan apabila jumlah produksinya berubah, yaitu semakin banyak produksi semakin murah harganya.

4.    Sifat Permintaan Terhadap Faktor Produksi
Sifat-sifat permintaan terhadap faktor-faktor produksi dua ciri-cirinya akan menerangkan, yaitu permintaan faktor adalah permintaan terkait dan kurva permintaan terhadap faktor-faktor produksi.
4.1    Permintaan Terkait
Permintaan seorang pengusaha keatas faktor-faktor produksi mempunyai sifat yang berbeda. Tujuan para pengusaha untuk memperoleh faktor-faktor produksi bukanlah memenuhi kebutuhannya. Permintaan tersebut dipengaruhi oleh keinginan pengusaha untuk menghasilkan barang-barang yang akan dijualnya kepasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Telah ditunjukkan bahwa kegiatan pengusaha memproduksi barang bertujuan untuk memperoleh keuntungan. Maka banyaknya faktor produksi yang akan digunakan pengusaha tergantung kepada keuntungan yang mungkin diperolehnya. Selama pertambahan penggunaan suatu faktor produksi akan menambah keuntungannya, lebih banyak faktor produksi tersebut akan digunakannya. Oleh karena permintaan pengusaha keatas suatu faktor produksi ditentukan oleh kemampuan faktor produksi tersebut untuk menghasilkan barang yang dapat dijual pengusaha itu dengan menggunakan, permintaan faktor-faktor produksi dinamakan permintaan terkait atau derived demand.
4.2    Bentuk Kurva Permintaan Faktor
Permintaan produsen ke atas suatu faktor produksi dapat di tinjau dari dua sudut, permintaan seorang produsen, dan permintaan seluruh produsen dalam suatu pasar faktor. Bentuk kurva permintaan ke atas faktor produksi bersifat : menurun dari kiri atas ke kanan bawah kurva seperti itu menggambarkan bahwa makin tinggi harga faktor produksi, makin sedikit permintaan ke atas faktor tersebut.
Sifat permintaan ke atas faktor produksi dan terhadap barang yang sangat bersamaan tersebut disebabkan oleh sebab yang berbeda, permintaan ke atas faktor produksi digambarkan oleh kurva yang menurun kebawah disebabkan oleh tiga faktor berikut :
·         Perubahan harga faktor ke atas permintaan barang, permintaan tergantung kepada kemampuannya menghasilkan barang yang akan menguntungkan produsen. Apabila harga faktor produksi menjadi semakin tinggi, biaya produksi juga akan semakin tinggi dan harga barang menjadi naik sehingga menyebabkan produsen harus mengurangi memproduksi suatu barang karena permintaan menurun. Dengan demikian kenaikan harga faktor produksi akan mengurangi jumlah faktor produksi yang digunakan.
·         Substitusi antara satu faktor produksi dengan faktor produksi yang lain, keadaan ini dilakukan dalam keadaan penyesuaian dalam penggunaan faktor-faktor produksi. Produsen menggunakan faktor-faktor produksi yang lain ketiga faktor produksi utama mengalami kenaikan harga sehingga lebih menguntungkan apabila digunakan. Dengan demikian, semakin rendah harga suatu faktor produksi semakin banyak permintaannya.
·         Hukum hasil lebih yang semakin berkurang, kurva permintaan semakin menurut disebabkan oleh berlakunya hukum hasil lebih yang semakin berkurang.
4.3    Pergeseran Kurva Permintaan Faktor Produksi
Terdapat beberapa faktor yang dapat menggeser kurva permintaan produsen terhadap faktor-faktor produksi, antara lain :
·         Perubahan permintaan terhadap barang yang diproduksikan, perubahan dalam permintaan terhadap suatu barang yang menyebabkan perubahan dalam jumlah produksi akan menimbulkan perubahan dalam permintaan ke atas faktor produksi tersebut. Kenaikan produksi memerlukan lebih banyak faktor produksi. Sebaliknya, apabila permintaan menurun, produsen terpaksa mengurangkan produksi dan permintaan faktor produksi.
·         Perubahan harga dari faktor produksi lain yang digunakan, dalam memproduksi suatu barang digunakan beberapa faktor produksi. Dan untuk mencapai suatu tingkat produksi tertentu, suatu faktor produksi akan dikurangi penggunaanya apabila lebih banyak faktor-faktor produksi lain digunakan. Kenaikan produktivitas suatu barang juga menyebabkan faktor produksi itu lebih banyak digunakan dan mengurangi penggunaan ke atas faktor produks yang produktivitasnya tidak mengalami prubahan.

5.        Elastisitas Permintaan Faktor Produksi
Suatu perubahan harga faktor produksi akan menimbulkan akibat yang berlainan ke atas perubahan jumlah berbagai faktor produksi yang digunakan. Ada yang perubahan jumlahnya sangat besar dan ada pula yang jumlah perubahanya sangat sedikit. Ini berarti  elastisitas permintaan berbagai jenis faktor produksi adalah berbeda-beda. Ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi elastisitas permintaan suatu faktor produksi yang akan di uraikan.

5.1    Elastisitas Permintaan dari Barang  yang Dihasilkan
Harga faktor produksi merupakan sebagian dari biaya produksi perusahaan. Penurunan harga faktor produksi menyebabkan pengurangan ke atas biaya produksi, dan ini mendorong perusahaan mengurangi harga dari barang yang diproduksinya sehingga menaikkan permintaan keatas barang yang dihasilkan. Makin elastis permintaan barang tersebut, makin besar kenaikan permintaan yang disebabkan oleh penurunan harga. Sedangkan pertambahan yang besar keatas pemintaan selanjutnya akan menambah permintaan yang besar pula ke atas faktor produksi. Dengan demikian, semakin elastisitas permintaan terhadap barang yang dihasilkan semakin elastisitas pula permintaan terhadap faktor produksi.
5.2    Perbandingan Antara Biaya Faktor Produksi dengan Biaya Total
Biaya produksi akan mempengaruhi harga dari barang yang akan di pasarkan. Jika ada dua perusahaan yang saling bersaing dengan memproduksi barang yang sama tetapi memiliki perbandingan dari faktor biaya produksi maka di antara salah satu perusahaan tersebut akan mengalami kenaikan harga barang yang dihasilkan dari perusahaanan lainnya, sebagai akibatnya permintaan terhadap barang yang diproduksikan perusahaan tersebut mengalami pernurunan yang lebih besar dari perusahaan lainnya. Maka dapat di katakan : semakin besar bagian dari biaya produksi total yang dibayarkan kepada suatu faktor produksi, semakin lebih elastis permintaan faktor produksi tersebut.
5.3    Tingkat Pergantian di Antara Faktor Produksi
Menggantikan suatu faktor produksi dengan faktor produksi lainya akan menimbulkan pengaruh pada perubahan harga juga permintaan terhadap faktor produksi, permintaan terhadap faktor produksi tersebut akan sangat menurut kalau harganya naik, dan akan mengalami pertambahan banyak pada waktu harganya turun. Tetapi apabila tidak banyak faktor produksi lain yang menggantikannya, kenaikan atau penurunan harga faktor produksi tersebut tidak mengubah jumlah yang diminta. Maka secara umum dapat dikatakan bahwa semakin banyak faktor-faktor produksi lainya yang dapat menggantikan suatu faktor produksi, semakin elastis permitaan ke atas faktor produksi tersebut.
5.4    Tingkat Penurunan Produksi Fisik Marjinal (MPP)
Hasil penjualan produksi marjinal sangat dipengaruhi oleh produksi fisik marjinal. Penurunan yang cepat ke atas MPP akan diikuti oleh penurunan yang cepat pula ke atas MRP. Sebaliknya apabila MPP mengalami penurunan yang lambat maka MRP juga lambat sifat penurunannya. Kurva MRP juga menggambarkan permintaan terhadap faktor produksi. Ini berarti produksi fisik marjinal sangat mempengaruhi permintaan ke atas faktor produksi, yaitu semakin cepat penurunan produksi fisik marjinal semakin tidak elastis permintaan terhadap faktor produksi yang bersangkutan.

6.        Syarat Penggunaan Optimum Faktor-Faktor Produksi
Perlu dianalisis cara suatu perusahaan menentukan penggunaan optimum dari beberapa faktor produksi. Analisis tersebut digunakan untuk menerangkan caranya perusahaan mencapai keadaan yang optimal didalam menggunakan beberapa faktor produksi, ada dua persoalan yang dapat dianalisis, yaitu :
·         Untuk mencapai suatu tingkat produksi tertentu bagaimanakah caranya meminimumkan biaya?
·         Bagaimanakah memaksimumkan produksi dengan menggunakan sejumlah biaya tertentu?

6.1    Gabungan Faktor Produksi Yang Meminimumkan Biaya
Dimisalkan dua faktor produksi yang digunakan oleh suatu perusahaan adalah modal dan tenaga kerja. Produksi fisik marjinal dari modal adalah MPPdan produksi fisik marjinal dari tenaga kerja adalah MPPL. Untuk menunjukkan syarat untuk meminimumkan biaya, akan diperhatikan dua keadaan berikut :
§  Harga tenaga kerja dan modal adalah sama
§  Harga tenaga kerja dan modal berbeda


6.2    Gabungan Faktor Yang Memaksimumkan Keuntungan
Syaratnya adalah : harga faktor produksi harus sama dengan hasil penjualan produksi marjinal (MRP). Dengan demikian kalau tenaga kerja yang digunakan, maka syarat untuk memaksimumkan keuntungan adalah :
MPP =  PL    dan   MPPC  =  PC
atau  MPPL   =  MPPC  = 1
            PL                 PC



BAB II
PENENTUAN UPAH
DI PASAR TENAGA KERJA
Tenaga kerja adalah faktor produksi yang sangat penting dalam kegiatan memproduksi. Ada beberapa aspek penting yang berhubungan dengan upah dalam pengertian teori ekonomi, yaitu pembayaran yang diperoleh berbagai bentuk jasa yang disediakan dan diberikan oleh tenaga kerja  kepada para pengusaha. Aspek-aspek tersebut akan di urai dalam bab ini.
1.      Upah Uang dan Upah Rill
Di dalam teori ekonomi upah di artikan sebagai pembayaran keatas jasa-jasa fisik maupun mental yang disediakan oleh tenaga kerja kepada para pengusaha. Teori ekonomi tidak dibedakan diantara pembayaran kepada pegawai tetap dengan pembayaran ke atas jasa-jasa pekerja kasar dan tetap. Di dalam teori ekonomi kedua jenis pendapatan pekerja (pembayaran kepada pekerja) tersebut disebut upah.
1.1    Perbedaan Upah Uang dan Upah Rill.
Dalam jangka panjang kecenderungan yang selalu berlaku adalah keadaan dimana harga-harga barang maupun upah terus menerus mengalami kenaikan akibat dari kenaikan harga-harga barang dan jasa tersebut ahli ekonomi membuat perbedaan di antara dua pengertian upah : upah uang dan upal rill. Upah uang adalah jumlah uang yang diterima para pekerja dari para pengusaha sebagai bayaran atas tenaga mental atau fisik para pekerja yang digunakan dalam proses produksi. Sedangkan upah rill adalah tingkat upah pekerja yang diukur dari sudut kemampuan upah tersebut membeli barang-barang dan jasa-jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan para pekerja.
1.2    Menghitung Upah Rill
Dalam ekonomi terdapat berbagai jenis barang dan jasa, dari tahun ke tahun hal tersebut mengalami kenaikan/perubahan harga yang tidak seragam. Ada yang tidak mengalami kenaikan, ada yang mengalami kenaikan harga yang tinggi dan ada yang kenaikan harganya relatif lambat. Masalah tersebut menimbulkan kesulitan dalam usaha untuk menunjukkan tingkat perubahan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian dari tahun ke tahun. Ini selanjutnya menyebabkan upah rill dari tahun ke tahun sukar untuk di hitung. Indeks harga dapat digunakan untuk menaksir upah rill para pekerja dari tahun ke tahun. Indeks harga adalah suatu indeks yang memberikan gambaran tentang tingkat rata-rata perubahan harga-harga dari waktu ke waktu.
2.        Hubungan Antara Produktivitas dan Upah
Upah rill yang diterima tenaga kerja terutama tergantung kepada produktivitas dari tenaga kerja tersebut. Ada hubungan dan kaitan sangat erat antara produktivitas dan kenaikan upah rill para pekerja menurut data dari negara-negara maju disamping menggunakan data, analisis secara grafik juga dapat menunjukkan hubungan antara produktivitas dan upah rill.    
2.1  Sumber-Sumber Kenaikan Produktivitas
Produktivitas dapat didefinisikan sebagai produksi yang diciptakn oleh seorang pekerja pada suatu waktu tertentu. Kenaikan produktivitas berarti pekerja itu dapat menghasilkan lebih banyak barang pada jangka waktu yang sama, atau suatu tingkat produksi tertentu dapat dihasilkan dalam waktu yang singkat. Kenaikan produktivitas disebabkan oleh beberapa faktor, yang terpenting adalah :
§  Kemajuan teknologi memproduksi. kemajuan teknologi memungkinkan penggantian kegiatan ekonomi dari menggunakan binatang dan manusia kepada tenaga mesin kemudian pengembangan teknologi dari kemampuan mesin itu sendiri yang telah melakukan inovasi. Pergantian ini mempertinggi tingkat produktivitas.
§  Perbaikan sifat tenaga kerja. meninggikan taraf kesehatan, pendidikan, dan latihan teknik dari tenaga kerja. Hal ini dapat mempertinggi produktivitas tenaga kerja di bidang ini dinamakan investasi ke atas modal manusia.
§  Perbaikan dalam organisasi perusahaan dan masyarakat. Dalam perekonomian yang mengalami kemajuan, bentuk manajemen perusahaan mengalami perubahan. Pada mulanya pemilik merupakan juga pimpinan perusahaan. Tetapi semakin maju perekonomian, semakin banyak perusahaanan yang diserahkan kepada manajer profesional. Dengan cara perubahan ini juga organisasi perusahaan diperbaiki, dan diselenggarakan menurut cara-cara manajemen modern. Langkah seperti ini juga dapat meningkatkan produktivitas.

3.        Penentuan Upah di Berbagai Bentuk Pasar Tenaga Kerja
Pasar tenaga kerja dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Bentuk-bentuk pasar tenaga kerja yang terpenting adalah :
§  Pasar tenaga kerja yang bersifat persaingan sempurna.
§  Pasar tenaga kerja monopoli
§  Pasar tenaga kerja monopoli dipihak pekerja
§  Pasar monopoli kedua belah pihak (monopoli bilateral)

3.1    Persaingan Sempurna Dalam Pasar Tenaga Kerja
Pasar persaingan sempurna dalam pasaran tenaga kerja berarti didalam pasar terdapat banyak perusahaan yang memerlukan tenaga kerja, dan tenaga kerja didalam pasar tidak menyatukan diri didalam serikat-serikat buruh yang akan bertindak sebagai wakil mereka. Didalam pasar tenaga kerja seperti itu sifat-sifat permintaan tenaga kerja tidak berbeda dengan sifat-sifat permintaan dan penawaran dipasar barang. Kurva permintaan ke atas tenaga kerja bersifat menurun dari kiri keatas kekanan bawah. berarti permintaan keatas tenaga kerja bersifat : semakin tinggi/rendah upah tenaga kerja semakin sedikit atau banyak permintaan keatas tenaga kerja.
Kurva penawaran tenaga kerja seperti juga kurva penawaran barang, bersifat naik dari kiri bawah ke kanan atas. Sifat penawaran seperti ini berarti : semakin tinggi upah semakin banyak tenaga kerja yang bersedia menawarkan tenaganya.
3.2    Pasar Tenaga Kerja Monopsoni
Monopsoni berarti hanya terdapat satu pembeli dipasar sedangkan penjual jumlahnya banyak. Berarti pasar tenaga kerja seperti ini bersifat monopoli dipihak perusahaan yang hanya terdapat satu perusahaan yang akan menggunakan tenaga kerja yang ditawarkan dan satu-satunya perusahaan modern ditempat tersebut.
Penentuan upah dipasar monopsoni digunakan dua pendekatan :
·         Menerangkan dengan menggunakan gambaran secara angka
·         Menerangkan secara grafik

3.3    Monopoli dari Pihak Tenaga Kerja
Dengan tujuan agar mereka dapat memperoleh upah dan fasilitas bukan keuangan yang lebih baik, tenaga kerja dapat menyatukan diri didalam serikat buruh atau persatuan kerja. Serikat buruh adalah organisasi yang didirikan dengan tujuan agar para pekerja dapat, sebagai suatu kesatuan, membicarakan atau menuntut syarat-syarat kerja tertentu dengan para pengusaha.
Dipihak perusahaan kekuasaan monopoli tersebut tidak terdapat. Ini berarti tiap perusahaan datang ke pasar tenaga kerja tanpa terlebih dahulu mengadakan kesepakatan diantara mereka. Permintaan tenaga kerja tiap perusahaan didasarkan kepada efisiensi mereka masing-masing dan kebutuhan mereka  untuk memperoleh tenaga kerja. Penentuan upah dalam pasar tenaga kerja yang bersifat monopoli pihak pekerja dibedakan kepada tiga keadaan, yaitu :
·         Menuntut upah yang lebih tinggi dari yang dicapai pada keseimbangan permintaan
·         Membatasi penawaran tenaga kerja
·         Menjalankan usaha-usaha yang bertujuan menaikkan permintaan tenaga kerja

3.4    Pasar Tenaga Kerja Monopoli Bilateral

4.        Faktor-Faktor yang Menimbulkan Perbedaan Upah
Perbedaan upah sering kali bisa kita lihat diantara tenaga kerja kasar maupun tenaga kerja profesional, bahkan sangat mencolok. Hal tersebut bisa saja terjadi dikarenakan faktor-faktor penting yang menjadi sumber dari perbedaan upah di antara pekerja-pekerja didalam suatu jenis kerja tertentu, dan diantara berbagai golongan pekerjaan. Faktor-faktor tersebut akan diuraikan sebagai berikut :
·         Perbedaan corak permintaan dan penawaran dalam berbagai jenis pekerjaan
·         Perbedaan dalam jenis-jenis pekerjaan
·         Perbedaan kemampuan, keahlian dan pendidikan
·         Terdapatnya pertimbangan bukan keuangan dalam memilih pekerjaan
·         Ketidaksempurnaan dalam mobilitas tenaga kerja
4.1    Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja
Permintaan dan penawaran tenaga kerja dalam suatu jenis pekerjaan sangat besar peranannya dalam menentukan upah disuatu jenis pekerjaan. Didalam suatu pekerjaan dimana terdapat penawaran tenaga kerja yang cukup besar tetapi tidak banyak permintaannya, upah cenderung mencapai tingkat yang rendah. Sebaliknya didalam suatu pekerjaan dimana terdapat penawaran tenaga kerja yang terbatas tetapi permintaan sangat besar, upah cenderung mencapai tingkat tinggi.



4.2    Perbedaan Corak Pekerjaan
Dikarenakan banyaknya jenis pekerjaan, banyak para tenaga pekerja menuntut dan memperoleh upah yang layak dikarenakan faktor-faktor lain baik itu fisik maupun fikiran sehingga banyaknya pemintaan terhadap upah tenaga kerja.

4.3    Perbedaan Kemampuan, Keahlian, dan Pendidikan
   Kemampuan, ketramilan dan keahlian para pekerja didalam suatu jenis pekerjaan adalah berbeda. Secara lahiriah segolong pekerja mempunyai kepandaian, ketekunan dan ketelitian yang lebih baik. Sifat tersebut menyebabkan mereka mempunyai produktivitas yang lebih tinggi. Dari faktor tersebut pengusaha akan memberikan upah tinggi bagi mereka yang memiliki produktivitas tinggi. Pendidikan adalah salah satunya cara menambah nilai guna untuk menjadi tenaga kerja dan mempertinggi kemampuan kerja sehingga dapat meningkatkan produktivitas.

4.4    Pertimbangan Bukan Keuangan
Tidak semua tenaga kerja tertarik dengan besarnya upah yang ditawarkan oleh suatu lowongan pekerjaan sebelum mereka menerima perkerjaan tersebut, ada faktor bukan keuangan yang cukup penting pada waktu seseorang memilih pekerjaan, faktor tersebut adalah pertimbangan. Suatu pertimbangan yang harus difikirkan dalam menentukan tingkat pendapatan yang dituntutnya. Misalkan : jauh dekatnya kepada rumah pekerja.
Seseorang sering kali bersedia menerima upah yang lebih rendah apabila beberapa pertimbangan bukan keuangan sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya pula, apabila faktor-faktor bukan keuangan banyak yang tidak sesuai dengan keinginan seorang pekerja, ia akan menuntut upah yang lebih tinggi sebelum ia bersedia menerima pekerjaan yang ditawarkan.

4.5    Mobilitas Tenaga Kerja
Ini adalah suatu aspek perpindahan tenaga kerja kepada pasar tenaga kerja yang satu dengan pasar tenaga kerja yang lain. Perpindahan tersebut akan terus berlangsung hingga tidak terdapat lagi perbedaan upah.

4.6    Faktor Geografis
Faktor geografis merupakan salah satu sebab menimbukan ketidaksempurnaan mobilitas tenaga kerja. Adakalanya ditempat-tempat tertentu terdapat masalah kekurangan buruh walaupun tingkat upah tinggi, sedangkan ditempat lain terdapat pengangguran dan tingkat upah nya relatif rendah. Dalam keadaan ini adalah wajar apabila para penganggur tersebut pindah ketempat dimana kekurangan tenaga kerja dihadapi. Dalam kenyataannya perpindahan tersebut belum tentu berlaku. Keengganan untuk meninggalkan kampung halaman dan sanak saudara sering kali mencegah orang untuk pindah ke tempat lain, walaupun upah dan kesempatan untuk maju lebih besar.

4.7    Faktor Institusional
Ketidaksempurnaan dalam mobilitas tenaga kerja disebabkan pula oleh faktor-faktor institusional. Di pekerjaan-pekerjaan tertentu terdapat organisasi-organisasi profesional yang baru. Tujuannya adalah untuk menjamin supaya pendapatan mereka tetap berada pada tingkat yang tinggi. Di negara kita faktor institusional tidaklah merupakan faktor yang penting yang menghambat mobilitas tenaga kerja. Tetapi di beberapa negara, pembatasan institusional tersebut adakalanya cukup serius. Sebagai contoh, serikat-serikat buruh di Amerika Serikat adakalanya menuntut kepada majikan untuk tidak mengambil pekerja yang tidak menjadi anggota serikat buruh.





BAB III
SEWA, BUNGA DAN KEUNTUNGAN
          Pada bab sebelumnya telah diuraikan beberapa aspek yang berhubungan dengan pendapatan faktor produksi pertama, yaitu upah tenaga kerja. Upah merupakan bagian yang paling penting dari pendapatan kepada faktor produksi. Di samping tenaga kerja, terdapat tiga keuntungan faktor yang lain, yaitu : tanah, modal dan keahlian keusahawan. Pendapatan dari ketiga faktor produksi tersebut adalah sewa, bunga dan keuntungan. Hal ini akan di uraikan dalam bab ini dan akan dianalisi aspek-aspek pokok yang perlu diketahui mengenai ketiga jenis pendapatan faktor produksi tersebut.
1.        Sewa Ekonomi dan Pendapatan Pindahan
Mengenai sewa ekonomi dan pendapatan pindahan ada beberapa persoalan yang perlu diperkenalkan terlebih dahulu. Pertama sekali akan diterangkan dua definisi yang berbeda mengenai sewa ekonomi. Sesudah itu akan diterangkan tentang sewa tanah, yang merupakan satu bentuk khusus dari sewa ekonomi. Selanjutnya akan diterangkan perbedaan pengertian di antara sewa ekonomi dan pendapatan pindahan.
1.1    Definisi Sewa Ekonomi
Sewa ekonomi perlu dibedakan diantara definisi yang besifat umum dan definisi yang mengaitkan sewa ekonomi dengan pendapatan pindahan atau transfer earnings. Pengertian umum sewa ekonomi dapat diartikan sebagai harga yang dibayar keatas penggunaan tanah dan faktor-faktor produksi lainnya yang jumlah penawarannya tidak dapat ditambah.
1.2    Definisi Lain
Segolongan ahli ekonomi mendefinisikan sewa ekonomi secara berikut: sewa ekonomi adalah bagian pembayaran keatas sesuatu faktor produksi yang melebihi dari pendapat yang di terimanya dari pilihan pekerjaan lain yang terbaik yang mungkin dilakukannya.
Pendapat yang dibayar kepada sesuatu faktor produksi dapat dibedakan dalam dua bagian. Bagian pertama dinamakan pendapatan pindahan atau tranfer ernings, yaitu bagian pendapatan tersebut yang digunakan untuk mencegah faktor produksi tersebut digunakan untuk kegiatan ekonomi yang lain. Bagian kedua dinamakan sewa ekonomi, yaitu bagian dari pendapat yang merupakan perbedaan diantara pendapat yang diterima dengan pendapat pindahan.


1.3    Tanah dan Sewa Ekonomi
Tanah merupakan faktor produksi yang jumlahnya tidak dapat dirubah, yaitu jumlahnya tidak dapat dirubah atau dikurangi. Yang dapat dilakukan adalah memperbaiki mutu dari tanah yang tersedia, misalnya dengan menyediakan irigasi yang baik tanah-tanah yang digunakan untuk persawahan, dan membuat proyek-proyek mencegah banjir ditanah-tanah yang sering  digenangi air. Sebagia akibat dari sifat penawaran tanah didalam analasia ekonomi kurva penawaran tanah bersifat tidak elastis sempurna.
Pandangan David Ricardo, salah satu ahli ekonomi klasik yang terkemuka, sampai sekarang masih selalu disinggung apabila analisis mengenai sewa ekonomi dilakukan. Pada masa hidup terdapat perdebatan tentang sebab-sebabnya harga jagung sangat tinggi. Sebagian alhi ekonomi berpendapatan bahwa harga yang tinggi tersebut disebabkan karna tuan tanah menuntut sewa yang tinggi keaatas tanah yang dimilikinya.
Menurut Ricardo harga jagung yang tinggi disebabkan oleh permintaan yang banyak, sedangkan penawarannya kurang mencukupi. Harga jagung yang tinggi tersebut menyebabkan para petani ingin menanam jagung lebih banyak dan menaikan permintaan mereka keatas tanah, maka sewa tanah bertambah tinggi. Bukan sewa tanah yang tinggi yang menyebabkan harga jagung tinggi. Yang benar adalah yaitu : harga jagung yang tinggi menyebabkan sewa tanah yang tinggi.
Makin tinggi pernintaan, makin tinggi pula sewa tanah yang harus dibayar. Sedangkan permintaan keasts tanah tergantung kepada sampai dimana besarnya permintaan barang-barang yang dapat dihasilkan diatas tanah tersebut.
1.4    Tanah Adalah Suatu Surplus
Tanah adalah satu-satunya faktor produksi yang tidak dapat dirubah penawarannya, tenaga kerja akan selalu bertambah, begitu juga dengan modal dan keahlian keusahawanan. Harga sewa tanah tidak dapat melakukan peranan yang sama seperti harga faktor produksi lainnya. Maksudnya, perubahan-peruabahan sewa tanah tidak menimbulkan pengaruh/efek apa pun kepada penawarannya. Berapa besar pun perubahan sewa tanah yang berlaku, penawaran tanah tidak akan mengalami perubahan. Sifat penawaran seperti itu menyebabkan ahli ekonomi menganggap sewa tanah sebagai suatu surplus. Maksudnya, sewa tanah bukanlah suatu pembayaran atau perangsang untuk menjamin agar tanah dapat disesuaikan jumlah dan penawarannya dengan yang diperlukan dalam berbagai kegiatan ekonomi. Apakah sewanya nol, atau sedikit, atau sangat tinggi, jumlah tanah yang tersedia untuk digunakan dalam kegiatan ekonomi tetap sama banyaknya.

2.        Modal dan Suku Bunga
Di dalam perekonomian modern perusahaan-perusahaan memerlukan modal untuk menjalankan dan memperbesar usahanya. Sebaliknya rumah tangga memiliki kelebihan pendapatan ayang dapat dipinjamkan dengan harapan untuk memperoleh bunga. Analisis dalam bagian ini bertujuan menerangkan hal-hal berikut :
·         Faktor utama yang menentukan permintaan dana modal
·         Faktor utama yang menentukan penawaran tabungan masyarakat
·         Teori-teori yang menerangkan penentuan suku bunga
·         Sebab-sebabnya terdapat beberapa tingkat bunga didalam perekonomian
·         Perbedaan diantara suku bunga nominal dan suku bunga riil
2.1    Produktivitas Modal
Perekonomian tidak akan berlaku tanpa barang modal yang kompleks dan sangat tinggi produktivitasnya. Untuk menjamin agar teknik memproduksinya tetap mengalami kemajuan dan tetap dapat bersaing denga perusahaan lainnya, investasi atau penanaman modal harus selalu dilakukan oleh suatu perusahaan. Untuk melakukan penanaman modal perusahaan memerlukan dana. Dana tersebut bisa dari keuntungan dari hasil penjualan maupun mendapat pinjaman dari pihak lain. Para pengusaha harus menentukan keputusan untuk meminjamkan dana dan melakukan investasi.
Permintaan dana modal yang akan digunakan untuk investasi tergantung kepada produktivitas dari dana modal tersebut. Produktivitas dari modal dihitung dengan cara menentukan besarnya pendapatan rata-rata tahunan neto (yaitu setelah dikurangi dengan penyusutan modal yang digunakan) dan dinyatakan sebagai persentasi dari modal yang ditanamkan. Produktivitas modal tersebut dinamakan tingkat pengembalian modal atau rate of returns.
2.2    Permintaan Terhadap Dana Modal
Berbagai jenis investasi mempunyai pengembaian modal yang berbeda, ada yang tingkat pengembalian modalnya tinggi dan ada pula yang tingkat pengembalian modalnya rendah. Apabila para pengusaha mengetahui sepenuhnya berbagai kemungkinan untuk melakukan investasi, merena akan mendahulukan investasi yang tingkat pengembalian modalnya tinggi. Baru setelah proyek tersebut dilaksanakan mereka akan mengembangkan proyek yang tingkat pengembalian modalnya rendah.
Permulaannya investasi akan dilakukan untuk mengembangkan proyek-proyek yang tingkat pengembaliannya tinggi, dan kemudian diikuti oleh proyek-proyek yang lebih rendah tinggkat pengembalian modalnya. Sampai dmana perusahaan-perusahaan akan meminta dana modal tergantung kepada suku bunga yang akan berlaku dalam perekonomian. Misalkan suku bunga adalan 10%. Pada suku bunga ini tidak menguntungkan kepada perusahaan untuk melakukan investasi pada tingkat pengembalian modalnya adalah dibawah 10% karena keuntungan yang akan diperoleh tidak dapat membayar bunga keatas dana modal yang dipinjamnya. Dengan demikian pada suku bunga sebesar 10% para pengusaha akan mengembangkan proyek-proyek yang tingkat pengembalian modanya setidak-tidaknya sama dengan suku bunga. Tetapi kalau suku bunga adalah 6% lebih banyak investasi yang akan dilakukan.
2.3    Suku Bunga dan Tabungan Masyarakat
Dalam suatu perekonomian tidak semua pendapatan yang diterima masyarakat akan digunakan untuk pengeluaran konsumsi. Sebagian dari masyarakat pendapatannya tersebut disisihkannya sebagai tabungan. Penabungan ini dilakukan untuk beberapa tujuan tertentu. Ada dua pandangan berbeda tentang pentingnya menentukan jumlah tabungan dalam masyarakat.
·         Pandangan Klasik
Jumlah tabungan yang dilakukan masyarakat ditentukan oleh suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin besar jumlah tabungan yang akan dilakukan masyarakat.
·         Pandangan Keynes
Tabungan tergantung kepada pendapatan nasional (pendapatan seluruh penduduk dan perekonomian). Pada tingkat pendapatan nasional yang rendah tabungan adalah negatif, yaitu konsumsi masyarakat lebih tinggi dari pendapatan nasional. Semakin tinggi pendapatan nasional, semakin tinggi tabungan masyarakat.
2.4    Penentuan Suku Bunga
·         Pandangan Klasik
Menurut ahli ekonomi klasik, suku bunga ditentukan oleh permintaan ke atas tabungan dan penawaran tabungan.
·         Pandangan Keynes
Menurut Keynes : suku bunga bergantung kepada jumlah uang yang beredar (penawaran uang) dan preferensi likuiditas (permintaan uang). Keynes menyatakan bahwa permintaan uang oleh masyarakat mempunya tiga motivasi,yaitu (1) untuk transaksi, (2) untuk berjaga-jaga, (3) untuk spekulasi.
Permintaan uang untuk bertujuan spekulasi tergantung kepada suku bunga dan sifat nya adalah : pada waktu suku bunga tinggi hanya sedikit uang yang akan ditahan oleh masyarakat untuk spekulasi, tetapi kalau suku bunga rendang maka lebih banyak yang tidak akan dispekulasikan (jadi dipegang oleh pemiliknya).
2.5    Faktor Penyebab Perbedaan Suku Bunga
·         Perbedaan resiko
·         Jangka waktu pinjaman
·         Biaya administrasi pinjaman
2.6    Suku Bunga Nomimal dan Suku Bunga Riil
Suku bunga nominal adalah suku bunga yang digunakan sebagai ukuran untuk menentukan besarnya bunga yang harus dibayar oleh pihak peminjam dana modal. Sedangkan tingkat bunga riil menunjukkan persentasi kenaikan nilai riil dari modal ditambah bunganya dalam setahun, dinyatakan sebagai persentasi dari nilai riil modal sebelum dibungakan.
3.        Pendapatan Para Pengusaha : KEUNTUNGAN
Keuntungan ditentukan dengan cara mengurangkan berbagai biaya yang dikeluarkan dari hasil penjualan yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan meliputi pengeluaran untuk bahan mentah, pembayaran upah, pembayaran bunga, sewa tanah, dan pengahapusan (depresiasi). Apabila hasil penjualan yang diperoleh dikurangi dengan biaya-biaya tersebut nilainya positif maka diperolehlah keuntungan.
Namun, dalam teori ekonomi definisi itu dipandang terlalu luas karena tidak mempertimbangkan biaya tersembunyi. Yaitu biaya produksi yang tidak dibayar dengan uang tetapi perlu dipandang sebagai bagian dari biaya produksi, apabila dikurangi lebih lanjut oleh biaya tersembunyi, akan menghasilkan keuntungan ekonomi atau keuntungan murni (pure profit).
3.1    Sumber Keuntungan Ekonomi : Keahlian Keusahawanan
Keuntungan adalah pembayaran ke atas jasa yang diberikan oleh suatu faktor produksi, keuntungan merupakan pembayaran kepada keahlian keusahawanan yang disediakan oleh pengusaha, mereka akan dapat memperoleh balas jasa dari jerih payahnya dalam bentuk keuntungan ekonomi atau keuntungan murni. Disamping pandangan tersebut beberapa ahli ekonomi telah mengemukakan sumber dari wujudnya keuntungan ekonomi. Pada umumnya teori-teori tersebut menjelaskan bahwa keuntungan adalah pendapatan yang diperoleh para pengusaha sebagai pembayaran dari melakukan kegiatan berikut
·         Menghadapi resiko ketidakpastian dimasa yang akan datang
·         Melakukan inovasi/pembaharuan didalam berbagai kegiatan ekonomi
·         Mewujudkan kekuasaan monopoli dalam pasar
3.2    Keuntungan adalah Pembayaran Terhadap Resiko
Mendirikan dan menjalankan kegiatan perusahaan adalah kegiatan ekonomi yang dipenuhi oleh berbagai resiko. Tidak terdapat jaminan bahwa suatu usaha akan pasti berhasil. Dalam perekonomian tidaklah mudah untuk menentukan keadaan yang terjadi di masa yang akan datang. Yang dapat dilakukan oleh pengusaha hanyalah membuat ramalan tentang keadakaan yang akan wujud dimasa depan. Berdasarkan ramalan tersebut pengusaha akan mengatur dan menentukan strategi kegaitan usahanya, ramalan tersebut belum tentu tepat. Berarti didalam membuat ramalan para pengusaha menghadapi resiko ketidaktepatan ramalananya. Sebagai akibat ramalannya yang salah pengusaha akan mengalami kerugian. Akan tetapi jika ramalannnya tepat, maka ua akan mendapat keuntungan. Maka, ditinjau dari sudut resiko yang dihadapi oleh setiap jenis usaha, keuntungan dipandang sebagai pembayaran untuk menghadapi resiko.
3.3    Pembayaran Untuk Kegiatan Inovasi
Kegiatan perusahaan untuk melakukan inovasi, yaitu mengadakan pembaharuan dalam manajemen, pemasaran dan teknik produksi, memegang peranan pentung di dalam menjamin kesuksesan usaha tersebut. Dengan melakukan inovasi, teknik memproduksi yang baru dapat diperkenalkan, mutu produksi dapat diperbaiki, biaya produksi diturunkan lebih lanjut, dan barang-barang baru dapat diperkenalkan. Langkah-langkah seperti ini di sati pihak dapat menaikkan hasil penjualan dan di lain pihak menurunkan biaya per unit produksi. Kedua perubahan ini akan menaikkan keuntungan perusahaan. Dengan demikian keuntungan dapat pula dipandang sebagai pembayaran ke atas kegiatan inovasi.
3.4    Sebagai Akibat Kekuasaan Monopoli
Terdapatnya suatu perusahaan yang kemungkinan dapat membatasi beberapa persaingan yang berada dipasar barang ini memungkinkan perusahaan tersebut bisa memperoleh keuntungan yang melebihi normal didalam jangka panjang. Keadaan ini dicapai oleh perusahaan tersebut dengan membatasi produksi dan menjamin agar tingkat harga adalah melebihi rata-rata. Kemungkinan untuk memperoleh keuntungan secara yang baru diterangkan ini meyebabkankan ahli ekonomi berpendapat bahwa keuntungan boleh pula dipandang sebagai pendapatan dari kekuasaan monopoli yang dimiliki oleh perusahaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar